Wednesday, May 28, 2008

annoying comment.

It was their fine neighbourhood.


I'm sad. I felt disappointed, unfair, and angry. Totally angry.

Did you know that the Lapindo victims haven't get their rights of their property and their life after these 2 years accident? Yes until NOW, they live like animals: no house, no enough facilities, no dream. So do you think it is annoying if the victims are angry asking for their life back? ABSOLUTELY NOT. So why this guy name Yogie wrote a comment in this blog, saying that the victims shouldn't be a beggar by begging too much and better go transmigrate to Irian Jaya. GOSH!!! It doesn't make any sense! This is the most cruel, foolish, and insensitive comment I ever read. I'm so angry when I read it. His comment tells me that he even doesn't think when he wrote it. What if the victims read it? It will break their heart. They need support not just useless argument.

Well, these are for him. Maybe these will help him to think:

1st. Transmigration NEED money. Transmigration to Irian Jaya NEED A LOT of money. But who's money? The victims already lost their money and properties. So where in the heck did you get that idea?

2nd. They are asking for their life that they have before the accident. That is their RIGHTS. Can you imagine how it feels like if you own a house, then somebody stole it, but no one can help you to get it back? Even no one cares about it! Can you imagine how it feels like? It feels UNFAIR. So don't blame the victims by telling them to stop fighting for their rights!

3rd. Aburizal Bakrie, who is responsible for the accident, is the #1 most rich man in South East Asia. It is so unfair if he lives like in paradise, while his victims live like in hell. Unfair. So do you still think, it is wrong if the victim kept begging their rights? Don't judge the victim are beggar, because they aren't. They did not beg for money, they beg for their stolen life.

4th. Please use your brain before you wrote something. What you wrote is what people think about you. And I think you are such a smart-ass, I mean, SOK TAU.

For Lapindo victims:
Please ignore such an insensitive people like him.

12 comments:

Yogie said...

Aiiihh... ternyata sampe ada yang mbikin postingan buat saya mengenai komentar saya di blognya mas Pepeng Escoret.Net

Baiklah, begini ya Mbak Mimit.. English saya nggak bagus, jadi saya tanggepin pake bahasa Indonesia aja ya :)

Mengenai saya dibilang sok tau, nggak empati kepada korban lumpur sidoarjo / Lapindo, mungkin nggak sepenuhnya benar, atau nggak sepenuhnya salah.

Kadang saya ngerasa, tindakan mereka udah nggak murni lagi dari masyarakat situ. Pihak lapindo sudah menjanjikan pembayaran ganti rugi, walaupun sampai sekarang masih sebagian yang diberikan. Trus kebijakan sisa pembayaran akan dibayarkan setelah proses penyumbatan semburan lumpur sudah terhenti.

Nah, masalahnya khan Kapan Janji Itu Ditepati? iya khan? Kalo disuruh sabar khan ya nggak mungkin.. Kalo disuruh bertahan khan juga nggak mungkin tho? Mau terus-terusan nunggu janji di camp penampungan? Bukannya malah membuat mereka semakin menderita?

Tapi kenapa beberapa LSM atau pihak yang mengaku pembela korban lapindo memaksa untuk terus mengejar hak mereka secepatnya. Apakah lupa dengan kebijakan dari Lapindo? Apa khawatir Lapindo yang akan lupa dengan janjinya?

Kalo yang dituntut itu cuma harta. Buat apa? Toh juga akan dibayar walopun entah kapan.. LSM khan punya data korban, jaga baik-baik data itu, jadi nanti bila sewaktu-waktu dibutuhkan khan jadinya dah siap.

Nah.. sembari menunggu proses.. kenapa nggak mencoba hidup baru? Apa udah terjebak dengan zona aman dan zona nyaman? Kalo iya.. waahh.. sungguh merugi mereka.

Makanya saya sarankan untuk transmigrasi. Siapa bilang kalo transmigrasi itu butuh duit? kalopun butuh kenapa LSM nggak bikin proposal kepada pemerintah untuk menggratiskan transmigrasi?

Apa lebih suka ngeliat korban lumpur tinggal di camp pengungsian kayak di jaman perang? Atau mereka mencoba hidup baru di tempat yang baru?

Coba deh main ke website nakertrans.go.id. Disana dijelaskan apa itu transmigrasi. Disana dapet apa aja, bahkan juga dikasih pembekalan. Kalo transmigran sampe terlunta-lunta, ya itu artinya dia nggak siap dengan perubahan.. Dan artinya lupa bahwa hidup itu selalu berubah..

Lagian misal nih.. besok Senin ternyata Lapindo membayar semua ganti rugi. Utuh tanpa ada potongan. Trus mereka mau kemana? wong tanah udah ilang, rumah udah ilang, lumpur juga blom kelar nyemburnya.. AKhirnya makin numpuk di pulau Jawa.

Kenapa nggak transmigrasi, mulai hidup baru, trus serahkan segala sesuatunya kepada Pemerintah, pantau pelaksanaannya oleh LSM. Setelah semuanya kelar, duitnya baru diberikan kepada korban yang mungkin telah sukses di tanah seberang dengan dipantau langsung oleh Pemerintah dan LSM.

Begitu analsis sok tau saya..
Kalo masih ga terima, boleh kok dibikin postingan :)

thiiika said...

OMG. padahal kan they're begging JUST FOR FOOD. biar bisa makan! huhuhuhu.. poor them.. i think adinda bakrie's total wedding cost could feed em for a year.. or more.. =[

Yogie said...

Begging for food?

Tuh khan? malah lebih mengenaskan..
kenapa ga membuat makanan sendiri?

ParisParis said...

hmm, kyknya mereka emang harus dipindahkan mit. soalnya bener kata yogie, klo udah dapet duit [moga2 cepet], mw tinggal dimana? tanah mereka udah jadi danau gitu...ini memang tanggung jawab bangsa indonesia, walaupun seharusnya "beberapa" pihak mempunyai tanggung jawab yang jauh lebih besar. ironis emang, negara ini tempat orang2 paling kaya, sekaligus paling menderita karena kekurangan materi...

leksa said...

@yogie : ulasan soal plan anda itu brilian kok,..
tetapi pelaksanaannya saja tidak segampang itu,..

Ada 2 hal yang membuat ongkos menjadi besar. pertama soal biaya memulai kehidupan ditanah baru. Kedua soal ongkos biaya sosial budaya.

Mungkin bagi anda sederhana saja membahas in isebagai mental tidak mau berubah. Jangan generaslisasi. Ada unsur-unsur budaya dan sosial masyarakat yang harus dijawab dari urusan transmigrasi.

Buat saya, relokasi lahan itu penting. Kenapa mereka ga diberikan tanah-tanah lain disekitar jawa? masih dekat secara budaya sosial kepada mereka?
Dari pada tanah2 itu dibangun mall dan perumahan elit?

Itu opini sok tahu saya juga. Karena toh saya juga melihat, berapa banyak warga Aceh korban yang belum dipindahkan dari BARAK sampai sekarang oleh pemerintah, padahal kuncinya hanya pada relokasi lahan tinggal sahaja. Sayangnya idtawarkan di pinggiran kota yang sulit menjangkau peradaban.

Belum lagi warga yang keras kepala karena kedekatan sosial dengan tanahnya. Sudah di ingatkan berkali2 jangan tinggal dekat pantai, tetep saja bangun rumah disana... See,.. urusan sosial lebih besar dari pada itungan2an duit...

Lapindo harus membayar segera mungkin. Setelah mereka terbayar, silahkan memilih ntuk mencari rumah tinggal paling dekat dannyaman buat mereka. Kalau pun tidak mereka bisa memilih opsi transmigrasi. Bukan skedar ngegusur, kotakan, paketkan manusia, taruh di hutan sana....

Herman Saksono said...

Iya gie, perlu postingan khusus, untuk setiap statement yang jahat.

Dan lagi-lagi Yogie bilang kalau korban Lapindo terjebak dalam zona aman. Bahkan saya yang bukan korban sangat sakit mendengar pernyataan yang sangat mensimplifikasi masalah itu.

Menurutku transmigrasi bukan solusi yang adil, karena sebelum lumpur mereka punya kehidupan yang layak. Oleh karena itu mereka berhak mendapat ganti rugi yang lebih baik dari sekadar dikirim ke daerah terpencil untuk membuka hutan. Dan itu, tidak semua orang sanggup.

Transmigrasi boleh menjadi solusi, tapi biarkan mereka memilih (Yogie boleh mengadvokasi mereka untuk transmigrasi). Tapi yang penting, mereka harus mendapatkan kepastian ganti rugi yang sepantas-pantasnya.

mediocre said...

hedeh... debat kusir terus.. indonesia banget ah..jijik

Yogie said...

Begini lho... maksud saya begini..

Okelah sekarang para korban lumpur sedang menunggu uang ganti rugi yang selayak-layaknya. Itu memang hak mereka..

Tapi apakah nggak lebih baik nunggunya di tempat lain? Di pulau lokasi transmigrasi contohnya.

Jangan membayangkan para transmigran itu akan ditinggal di hutan, disana itu udah ada pemukiman dan perumahannya. Bahkan sebelum kesana, akan dapet semacam pembekalan untuk bekal disana.

Nah, yang di lokasi bencana cukup LSM dan pihak terkait saja, kalo benar-benar tulus mendukung, pasti akan terus menuntut pihak-pihak yg bertanggung jawab untuk segera membayar ganti rugi itu.

Nah.. Ini akan lebih baik daripada para korban nunggu pembayaran ganti rugi yg nggak jelas kapan, di tenda-tenda pengungsian.

Lagian kondisi tenda pengungsian juga udah pada tau khan? Apa cocok untuk bermukim?

Makanya, mendingan relokasi. Karena Jawa udah penuh, makanya transmigrasi.

iniBudi said...

Yogie : Jangan membayangkan para transmigran itu akan ditinggal di hutan, disana itu udah ada pemukiman dan perumahannya.


Udah pernah liat lokasi Transmigrasi, Mas? Kalo baru liat di TV, jangan ngaku udah pernah deh...

Lagian, apa pekerjaan/keahlian sebagian besar korban?
Banyak kisah para Transmigran yang malah jadi lebih susah di tempat baru. Di Kalimantan contohnya. Para transmigran membawa keahlian bertanam padi, akhirnaya harus menerima kenyataan bahwa tanah di kalimantan sama sekali berbeda dari keadaan tanah di jawa.

mitora in life said...

wes, gini aja...
kalo emang mau bantu korban lapindo, hayuuk sama2 kita kesana, bawa dana sumbangan. Dpd sekedar debat kusir (ini jelas ga ada gunanya buat mereka)

saya sih setuju sama mbak mimit (berhubung namanya rada mirip dg saya :D). Karna memaksa mereka untuk pindah pun susah, banyak faktor lah.

Raffaell said...

Hmmm, masalahnya yang punya duit nya dah kabur... hehehehe, biar aja dikejar dosa

Rafif Pamenang Imawan said...

Permisi.
Kok perdebatannya jadi panjang ya ?
Saya pikir masukan dari Yogi merupakan salah satu opsi yang bagus, diantara banyak opsi bagus lainnya yang mungkin belum terpublish.

Saya akan mencoba untuk sedikit berpendapat, bahwa problema kependudukan pada dasanya tidak hanya muncul saat peristiwa lapindo saja (sudah pasti).

Transmigrasi bukan hanya masalah biaya dan lokasi tempat tinggal. Lebih dari itu masalah transmigrasi terkait dengan bagaimana gejala etnisitas dapat di redam di daerah transmigrasi. Banyak kasus masyarakat yang kembali ke daerah asal karena dimusuhi oleh masyarakat setempat. Kita harus sadari bahwa gejala-gejala tribalisme masih kuat di Indonesia, dan ini masalah yang serius. Perlu pemikiran yang matang dan solutif untuk dapat memecahkan persoalan ini.

Kembali pada kasus lapindo. Saya cenderung skpetis dengan peran dari LSM, kalau kita mau pake data LSM maka butuh data pembanding untuk mengecheck validitasnya. Ingat LSM bukanlah aktor netral dalam masyarakat, LSM justru dapat menjadi aktor politik mengingat peranannya dalam mobilisasi massa cukup kuat.

Peran media cukup dominan pula, mengingat media menjadi yang menjadi pengarah dan pembentuk diskursus di masyarakat. Meskipun kesalahan tersebut dilakukan oleh Lapindo, negara tidak boleh lepas tangan dari tanggung jawab.

Menurut saya, biarkan masyarakat bergerak dengan keyakinannya. Kita tidak bisa memaksakan mereka pindah ke daerah lain. Nanti jangan-jangan begitu pindah ke daerah lain, suara mereka justru tidak didengar. Mengingat jarak mereka dengan kasus semakin jauh. Rakyat sudah diambil haknya, sudah sewajarnya apabila mereka menuntut hak mereka.

Contoh sederhananya, apabila rumah temen-temen terkubur lumpur. Apa temen-temen mau langsung pergi begitu saja, padahal hak temen-temen sudah dirampas.

Saya rasa itu saja pendapat saya. Mudah-mudahan akan muncul solusi yang menarik, logis dan kontributif. Dari pada sekedar berdebat di blog dan tidak merubah keadaan.

Salam.